Selamat berpuasa semuaaaaa! Sambil menunggu matahari terbit, gue mendadak pengen menulis artikel nih, sebenernya pengen dari kemarin tapi apa boleh di kata rasa malas menghapus semua rencana yang sudah di buat hahaha. SKIP.

3f69fb310d3e7da9e5e071e234c54954

Yap, GO-JEK menjadi bahan perbincangan hangat akhir-akhir ini, banyak media yang menyorotnya dan tak ketinggalan para artis yang memberi testimoni tentang service yang di berikan oleh GO-JEK ini. Disini gue ga bakal ngebahas dari sistemnya GO-JEK, karena sistem dari GO-JEK sungguh WOW! *keren. Menurut gue yang perlu di bahas disini adalah para pengemudi nya. Kenapa? Karena saya melihat sendiri pengemudinya masih bermental yang sama. Seharusnya, para founder ini merangkul para penggiat road safety. Jadi sebelum para pengemudi turun ke jalan, sebaiknya di beri pengetahuan tentang etika berkendara di jalan raya dan keamanan saat berkendara. Menurut saya itu harus dong, karena yang sering saya lihat pengendaranya (saat belum ada penumpang) masih sering seruntulan, melewati trotoar, melibas lampu merah dan hal lainnya. Tapi berbeda sekali saat pengemudi ini sudah ada penumpangnya, mendadak kalem walaupun saya pernah di senggol halus dari belakang (It’s oke lah, Jakarta gitu). Selain mental dan sifat pengendara, ada yang ingin di singgung juga nih, yaitu saat pengendara ini menunggu penumpang keluar dari gedung perkantoran. Kejadiannya di sekitaran Rasuna Said (Kuningan, Jakarta). Kemarin sore sekitar jam setengah 5, anda pasti bisa membayangkan macetnya daerah situ saat jam pulang kantor, ditambah berbarengan waktu berbuka puasa dan di tambah lagi dengan motor GO-JEK yang parkir menunggu penumpang di bahu jalan bahkan di trotoar.

Bermacet-macetan sudah dilewati, sesaat jalanan sedikit lengang bertemu lagi dengan GO-JEK yang sedang memegang ponselnya saat berkendara, hebat nih ada yang main sirkus di jalanan, mungkin dia sedang ada penumpang atau sekedar melihat alamat, entahlah yang pasti ini membahayakan diri sendiri dan orang sekitar.

Disaat lampu merah, gue bertemu lagi dengan GO-JEK, kali ini mata gue jelalatan melihat jaketnya, karena dengan warna hijau dan ada tulisan tulisan itu membuat mata ingin melihat sekaligus membacanya. Setau gue, di setiap jaket GO-JEK ada ID Card pengendara yang di lapisi plastik gitu kan, kali ini gue ga melihat ada ID Cardnya walaupun ada tempat untuk menaruh ID Card. Ya entah lah mungkin belum cetak karena banyaknya para tukang ojek yang di sulap menjadi GO-JEK, tapi disini yang membuat gue kepikiran adalah apa mungkin ini orang supir tembak? (kaya supir angkutan umum lainnya).

Untuk penutup, mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan ini karena semata-mata hanya ingin share kejadian yang gue lewati kemarin. Dan gue sendiri mengucapkan sukses selalu untuk GO-JEK, selamat bermacet-macetan di Jakarta. Oh iya lupa, mungkin sebentar lagi Uber Taxi akan menambahkan kemeriahan macetnya ibu kota. Sekian. Salam.